Marawis

  • 26 April 2020
Marawis

Pada Hari Raya Idul Fitri seperti saat ini pun marawis dimainkan. Para pemainnya adalah puluhan anak-anak yang sedang menikmati libur sekolah di kawasan Cakung. Mereka berkumpul untuk melatih keterampilan bermain marawis. Bahkan, hampir setiap petang di bulan Ramadan, mereka asyik berlatih memainkan alat musik tersebut.

Marawis adalah permainan alat-alat musik yang dibawa oleh para saudagar Islam dari Yaman. Belakangan, marawis beradaptasi dengan budaya lokal dan mulai dimainkan oleh kelompok musik marawis di Ibu Kota.

Adapun pola permainan marawis sangat sederhana, namun dibutuhkan konsentrasi tinggi. Para pemain yang harus saling mengisi nada membuat permainan marawis terlihat rumit. Teknik ini di kalangan pemain marawis dikenal dengan istilah "tanya dan jawab". Nah, dari pola permainan inilah lahir tiga bentuk irama atau pukulan dalam marawis, yakni sarah, zahefa, dan zapin.

Permainan marawis semakin berkembang dari bentuk asalnya, seiring dengan bertambahnya alat musik modern, seperti biola dan keyboard. Marawis juga kerap digunakan untuk mengiringi tarian samhar. Tarian ini hanya dibawakan oleh laki-laki yang juga merupakan anggota dari kelompok marawis tersebut.

Ada manfaat lain dari marawis. Kesenian yang didominasi perkusi ini dapat mencegah para pemainnya terpengaruh hal-hal yang negatif. Marawis dapat memotivasi para pemainnya untuk menjauhi pergaulan yang tidak benar. Faedah lainnya, si pemain dapat mengembangkan kesenian bernuansa islami.

Sedangkan bagi kebanyakan pemain marawis, pertunjukan mereka adalah amal. Semakin sering mereka manggung, maka kian banyak amal yang diperoleh. Lantaran itulah, mereka tidak pernah meminta bayaran untuk sebuah pertunjukan.

  • 26 April 2020