Sejarah Sekolah

  • 26 April 2020
Sejarah Sekolah

Aktivitas Zarqoni dalam perjuangan melawan penjajahan Belanda membuatnya menjadi tokoh yang disegani didaerah Serang, Banten. Walhasil, setelah Konperensi Meja Bundar tahun 1950, disaat Pemerintah Republik Indonesia melakukan pembenahan administrasi pemerintah, terutama untuk pemerintahan daerah, H. Zarqoni diangkat menjadi salah satu anggota Dewan Perwakilan rakyat Daerah kabupaten Tangerang. Ia terima tugas dan tanggung jawab itu sebagai bagian dari ibadah kepada Allah. Sebab, menjadi wakil rakyat berarti menyuarakan kepentingan rakyat. Dan ini adalah amanah.

Tidak seperti saat ini dimana kesempatan menjadi anggota DPR dan DPRD diincar oleh banyak pihak, menjadi wakil rakyat saat itu sebenarnya menyedihkan.tak ada gaji yang bias ditunggu setiap bulannya. (apalagi uang siding, uang kunjungan, dan lainnya). Yang ada hanya uang transport. Tapi itu tetap dijalani oleh Ustadz H. Zarqoni dengan ikhlas dan tabah. Hingga suatu saat di tahun 1951, ia mengalami suatu peristiwa yang cukup mengguncang jiwanya. Ketika itu, ada seorang anaknya yang minta dibelikan ‘celana monyet’ – yaitu sejenis celana yang menyambung hingga menutup dada dan memiliki kantong di depan dada, serta dua tali di pundak kanan dan kiri – tapi ia tak bisa memenuhinya. Penyebabnya, karena memang tak ada uang yang ia pegang.

Anak-anaknya waktu itu sudah mulai besar. Siti rozanah telah beranjak 11 tahun, Ahmad Nabhani berusia 8 tahun, Siti Hindun 5 tahun, dan Muhammad Roem 3 tahun. Mereka semua butuh pendidikan, butuh sekolah, butuh pakaian, dan lainnya. Tapi, ia tidak punya uang untuk memenuhi itu semua. Uang transport sebagai anggota DPRD Tangerang hanya cukup untuk dapur. Air mata Zarqoni pun menetes, tak kuasa menahan sedih. Saat itu muncullah pikiran dalam benakna, bahwa “Memimpin masyarakat dan negara adalah Fardhu Kifayah. Sedangkan memimpin keluarga, istri dan anak, merupakan fardhu ‘ain’.”

Peristiwa dan pikiran itu kemudian membuatnya mengambil sebuah keputusan tegas: berhenti dari kenggotaan DPRD Tangerang. Ia bertekad akan mencari nafkah untuk keluarganya. Tapi, disini ia menghadapi kebimbangan. Sejak remaja ia belum pernah bekerja – dalam arti yang menerima upah. Ia belum pernah berpengalaman sebagai pegawai. Mau berdagang pun ia tak punya modal. Maka, jalan satu-satunya adalah ikut bekerja pada orang yang dikenalnya. Tapi siapa? Itu yang ustad H. Zarqoni belum tau.

Suatu hari ia bertemu dengan seorang temannya, ustad H. Astari, di Pasar Kresek. Ia menceritakan kegalauan hatinya kepada sang teman. Astari pun lalu memberikan saran kepada Zarqoni. “kamu berangkat saja ke Jakarta, ke tanjung Priuk. Nanti disana, kamu temui Mandor Saikam. Dia anemer (mandor) kebersihan BPM (Pertamina waktu itu – red). Bilang saja disuruh saya.” Kata Astari. Mendapat saran dan rekomendasi demikian, H. Zarqoni segera kembali ke rumah. Ia ceritakan pertemuannya dengan Ki Astari kepada istrinya. Ruqoyah, sang istri, ternyata juga mendukungnya.

Berselang satu hari, berangkatlah H. Zarqoni ke Jakarta. Begitu sampai Tg. Priuk, ia langsung mencari rumah mandor Saikam di bilangan Palembit (Palm Beach) – kini disebut Kampung Tepi Laut Bogasari. Saat bertemu Saikam, dengan didahului sedikit cerita pertemuannya dengan H. Astari di Pasar Kresek sebelumnya, ia langsung menyatakan akan ikut kerja.

“Ustad, kerjaan saya berat. Nyabutin rumput,” kata mandor Saikam.

‘Nggak apa-apa,” Jawab H. Zarqoni tegas.

“Ya, sudah kalau begitu. Ustad boleh kerja mulai besok,” timpal Saikam.

Keesokan hari Zarqoni mulai bekerja, dengan tugas memandori (mengawasi) empat orang anak buah mandor Saikam saat membersihkan dan mencabuti rumput-rumput yang tumbuh liar di kompleks BPM (Pertamina) Tanjung Priuk. Dapat 22 hari kerja, tiba-tiba Zarqoni didatangi oleh mandor Saikam. Ia diminta berhenti bekerja.

“Ustad, pekerjaan ini nggak cocok buat Ustad. Lebih baik ustad mengajar ngaji anak dan keponakan saya saja,” pinta Saikam. Permintaan itu disetujui oleh Zarqoni, karena kedatangannya ke Jakarta memang untuk bekerja mencari nafkah. Maka, sejak esok harinya, H. Zarqoni mempunyai tugas baru, yaitu mengajarkan seorang anak mandor Saikam dan 2 keponakannya tentang baca tulis Al-Qur’an, juga pelajaran agama lainnya.

Baru dua hari berjalan, ternyata banyak anak-anak tetangga yang berdatangan, juga minta diajarkan baca tulis Al-Qur’an dan pelajaran agama. Dengan seizing mandor Saikam, akhirnya dibukalah 2 kelas pengajian (tingkat Diniyah Awaliyah) di emper rumah mandor saikam. Tanggal 15 Agustus 1951 pengajian tersebut diresmikan oleh kepala kampong setempat dengan nama Al-Khairiyah. Murid pertamanya berjumlah 40 anak. Inilah awal mula dan cikal bakal bagi Yayasan Perguruan Islam Al-Khairiyah Jakarta Utara yang ada saat ini.

Semangat untuk mendirikan Madrasah rupanya cukup menggebu di benak Ustad H. Zarqoni. Mulai tahun 1954, ustad yang berusia 35 tahun itu berupaya untuk mencari donator dan dermawan. Sumbangan yang dicari tidak hanya berbentuk uang, tetapi juga paku, bamboo, genteng, bilik, dan bahan banguan lainnya. Satu tahun kemudian, dari hasil jerih payahnya dan sumbangan para donator, berdirilah 2 lokal kelas.

Namun, di tahun 1960, pemerintah DKI Jakarta melakukan pembebasan wilayah Palembit. Didaerah ini akan dibangun sebuah pabrik tepung terigu terbesar di Indonesia (kini Bogasari). Zarqoni pun terpaksa harus mencari lahan baru ditempat lain. Setelah berkonsultasi ke sana-sini, akhirnya didapatlah sebuah tanah kosong di wilayah lagoa.

Maka pada tahun 1960 itu juga 2 (dua) loka kelas Madrasah Al-khairiyah dipindahkan ke lagoa. Mengingat dana yang terbatas jika harus membangun kembali dari awal, maka Zarqoni pun berinisiatif untuk menggotong dua kelas itu bersama puluhan masyarakat Palembit ke Lagoa.

Alhamdulillah, berkat bantuan dan kerjasama masyarakat sekitar madrasah, 2 lokal itu telah berdiri tegak di jalan mindi. Jika tidak, maka boleh jadi sekitar 200-an murid berikut 6 orang guru madrasah, saat itu akan terlantar serta tidak dapat segera melanjutkan proses belajar-mengajarnya.

Di Madrasah itu, disamping sebagai pimpinan h. Zarqoni juga ikut mengajar, sekaligus merangkap sebagai Ketua yayasan, tetapi, karena peran pengjaran agamanya yang cukup mencolok di wilayah Tg. Priuk H. Zarqoni pun kemudian diangkat oleh pemerintah menjadi guru agama disekolah negeri, SD taman Sari.

Lagi-lagi, ia melihat pengangkatan dirinya sebagai guru agama itu sebagai amanah – disamping persoalan penghasilan. Bagaimana tidak. Ia jalani itu dengan sepenuh hati. Berangkat pagi, sekitar pukul 06.00, ditempuhnya jalur Priok – Taman Sari dan karang Anyar di wilayah Jakarta Barat, dengan menggunakan sepeda. Ia mengajar pagi dan petang. Baru tiba di rumah jam 18.00.

Merasa tak kuat, akhirnya Ustadz H. Zarqoni meminta berhenti. Tak lama kemudian tugas mengajarnya dipindahkan ke Jakarta Utara. Tidak tanggung-tanggung ia diminta mengajar di 3 sekolah sekaligus, yaitu SD Tugu dan SD Cilincing (Pagi) serta SD Jombang (petang). Tapi, dengan begini ia merasa lebih dari sebelumnya.

Ia juga pernah menjadi guru agama di SMP 84 pada tahun 1966. Di tahun 1973, ia diminta untuk mengajar di SMA 13. Di samping itu, adda beberapa tugas lain yang diembannya, seperti sebagai pembimbing rohani Brigade Mobil (brimob) dan Satpol Airud, Kepolisian RI, sejak tahun 1966. Ustad H. Zarqoni juga diangkat menjadi Imam Militer Kodam.

Terakhir, ia sempat pula diminta untuk memimpin Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jakarta Utara.

Di tengah beragam kesibukannya, ia membagi waktunya untuk Al-Khairiyah. Dengan segala daya dan upayanya yayasan pendidikan ini ia kembangkan. Dari semua hanya memiliki Madrasah Diniyah yang kemudian berubah menjadi Madrasah Ibtidaiyah, kini Yayaysan Perguruan Islam Al-Khairiyah terbilang besar dan diperhitungkan di wilayah Jakarta Utara.

Seluruh jenjang pendidikan tersedia di Al-Khairiyah, dari mulai Taman Kanak-Kanak (TK), Taman Pendidikan Al-Quran (TP), sekolah dasar (SD) Islam, Madarasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (Mts). Madrasah Aliyah (MA), sekolah menengah umum (SMU), hingga sekolah Menengah Kejuruan (SMK), seperti SMEA dan STM.

Jumlah murid dan siswa seluruh sekolah di bawah Yayasan Perguruan Islam Al-Khairiyah mencapai lebih dari 3.000 orang, dengan jumlah guru yang mencapai hampir 400 orang.

Sebuah perjuangan yang sangat panjang, tentu.


PROFIL

SDI AL-KHAIRIYAH PETANG

Kel. Lagoa Kec. Koja Kota Administrasi Jakarta Utara

 

  1. Nama Sekolah                                   :    SDI AL-KHAIRIYAH PETANG
  2. Alamat Sekolah                                 :    Jl. Mindi No. 2

                                                                Kelurahan Lagoa Kecamatan Koja

                                                                Kota Administrasi Jakarta Utara

  1. Kode Pos                                           :    14270
  2. Nomor Telpon Sekolah                      :    021-4369813
  3. E-Mail Sekolah                                  :    sdsalkhairiyahpetang@gmail.com
  4. NPWP Sekolah                                  :    70.122.704.3-045.000
  5. NPSN                                                 :    20104985
  6. NSS                                                   :    102016103034
  7. NIS                                                     :    100790
  8. NSB                                                   :    0031217007033602
  9. Nomor Ijin Operasional Sekolah        :    4766/-1.851.48
  10. Nomor SK Hasil Akreditasi                :    544/BAP-S/M/DKI/2016
  11. Status Akreditasi                                :    B
  12. Tahun Berdiri Sekolah                       :    1964
  13. Rayon                                                :    02
  14. Sub Rayon                                         :    12
  15. Kode Sekolah                                    :    205
  16. Status Sekolah                                   :    Swasta
  17. Waktu KBM                                       :    Siang
  18. Luas Tanah                                        :    552 M2
  19. Luas Bangunan                                  :    700 M2
  20. Garis Lintang                                      :    -6.1202000
  21. Garis Bujur                                         :    106.9108000
  22. Sumber Listrik / Daya                        :    PLN / 33.000 Watt
  23. Sumber Air                                         :    Aetra
  24. Akses Internet / Kecepatan               :    Indihome / 50 Mbps
  25. Status gedung                                    :    Milik Yayasan
  26. Nama Yayasan                                  :    Yayasan Perguruan Islam (YPI) Al-Khairiyah
  27. Nama Kepala Sekolah                       :    M. NURKHOLIS MARWAN, SE
  28. Nomor HP                                          :    081239839077
  29. NUKS                                                 :    19023L0680161221093083
  30. NUPTK                                              :    6042755656110033

  • 26 April 2020